Kamis, 04 Mei 2023

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang pastinya ingin hidup dengan bahagia, nyaman dan tenang. Segala upaya pun dikerahkan demi untuk mencapai hal tersebut. Meski terkadan ada sebagian orang yang tidak peduli dengan cara-cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan hal tersebut. 

Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak benar-benar paham tentang apa sebenarnya bahagia, tenang dan nyaman itu. Ada yang mencarinya melalui jalan kompetisi. Itu artinya dia memahami bahwa bahagia, nyaman dan tenang bisa didapatkan dengan kemenangan dalam sebuah kompetisi.

Anggapan itu tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Karena kemenangan tersebut hanya bersifat sementara. Akan selalu ada kompetisi-kompetisi lain yang melahirkan kemenangan-kemenangan lainnya.

Adapula sebagian orang yang meletakkan makna bahagia, nyaman, dan tenang ttu pada harta benda dan seseorang. Bahagia apabila memiliki, rumah, kendaraan mewah, uang yang tak pernah kurang, anak-anak yang baik, pasangan yang ideal. 

Well, hal itu pun tak salah dan tak sepenuhnya benar. Banyak orang yang kaya hartanya yang mengakhiri hidupnya karena depresi. Betapa banyak pula harta benda yang hilang dengan sekejap oleh sebuah bencana. Dan tak sedikit pula, orang-orang yang mengalami kehilangan orang-orang terkasihnya. 

Jika bahagia kita letakkan pada hal-hal seperti demikian, lalu hal tersebut hilang, hancur dan pergi, lalu bagaimana kabarnya dengan kebahagiaan kita? Maka siap-siaplah untuk menderita.

Apakah fenomena seperti ini salah? Tidak juga. Sudah sifat dasar manusia. Siapa sih yang tidak ingin bahagia, nyaman dan tenang?

Pahami Makna Bahagia Sebenarnya

Sebelum mencari bahagia, nyaman dan tenang ini, ada baiknya kita pahami betul mengenai makna sebenarnya. Bahagia, nyaman dan tenang. Semua hal ini tergolong pada kata sifat. Itu artinya, makna sebenarnya dari bahagia, nyaman dan tenang ini tak kasat mata. Hanya dapat dirasakan oleh hati. 

Namun, manusia kini hanya mampu melihat hal-hal yang berwujud saja. Segala sesuatu yang dirasakan hati, haruslah dilekatkan pada satu wujud materi. Sayangnya, segala hal materi ini tidak ada yang abadi. Akan rusak, hilang, lenyap.

Kita semua sadar, bahwa sesuatu yang abadi hanyalah Allah. Sang Pencipta yang menciptakan langit, bumi, dunia dan seisinya juga jagad raya ini. Sayangnya, Allah tidak berwujud dalam sebuah materi di muka bumi ini. Belum waktunya dan bukan tempatnya di muka bumi ini untuk melihat wujud Allah. 

Namun, Maha Baik Allah yang telah memperkenalkan sifat-sifatnya melalui 99 asmaul husna. Maka dari itu, iman menjadi senjata utama untuk melekatkan kebahagiaan pada Dzat Maha Abadi itu. Konsepsi iman ini sebenarnya mudah. Namun, dalam prakteknya selalu akan ada saja godaan dari musuh manusia. 

Bahagia itu di Hati

Syeh Abdul Qadir Jaelani pernah mengatakan, bahwa Allah bisa dilihat oleh mata batinnya. Makna melihat dalam konteks ini bukan melihat wujud materinya. Namun, melihat dengan hati yaitu dengan meyakini dan merasakan. Selain iman, kejernihan hati pun sangat penting untuk dapat melihat Allah dalam makna asma dan sifatnya. 

Kenapa Allah tidak memperlihatkan saja wujudnya pada seluruh manusia di muka bumi ini? Allah tahu, manusia belumlah siap untuk hal ini. Dikisahkan dalam cerita Nabi Musa yang meminta untuk melihat wujud Allah. Saat itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menatap sebuah gunung, lalu Allah menampakan wujudnya dan gunung tersebut hancur luluh lantak sedangkan Nabi Musa tergeletak pingsan.

Asmaul Husna dan Bahagia

Allah tahu, akal dan jiwa manusia belumlah siap. Allah tahu kapasitas kita. Maka dari itu, Allah memudahkannya dengan iman dan asma wa sifat-Nya.

Lalu bagaimana mekanisme bahagia yang dilekatkan pada Allah ini bisa diterapkan? Kita butuh afirmasi dan langkah. 99 asmaul husna ini bisa kita hafalkan. Tidak cukup dihapalkan saja, namun juga harus dipahami. 

Contoh hal, kita ambil 1 asmaul husna yang ingin kita rasakan. Ya Ro'uf atau Yang Maha Merawat. Bagaimana bisa kita yakin Allah maha merawat? Baiklah. Langkah selanjutnya, tidurlah. Lalu bangun keesokan harinya dan fikirkan. 

Tidur adalah proses di mana kita tidak sadar. Lalu tubuh kita masih utuh, dengan sistem metabolisme yang masih baik. Siapa yang mengurusinya ketika kita sedang tidur? Ya Rouf, Sang Maha Merawatlah yang menjaga dan mengurus tubuh ini ketika kita sedang tidak sadar.

Ketika hal ini masih belum cukup meyakinkan, cobalah terus berfikir dan berfikir. Bukan iman mu yang bermasalah. Bisa jadi sisi kemanusiaan mu yang masih harus diperbaiki.

Ujian, Gerbang Awal Kebahagiaan

Itulah makanya manusia perlu terus latihan melalui ujian-ujian yang Dia berikan. Bahagia yang abadi itu letaknya di hati. Bukan pada harta benda, orang atau segala hal yang ada di luar kita. 

Ketika diuji dengan hal yang buruk, rasanya seolah Allah menyuruh kita melompat dari tebing yang teramat tinggi dengan jurang di depannya yang tertutup oleh kabut tebal. Sehingga kita tak tahu seberapa dalamkah dasar tebing itu, dan ada apa di bawahnya. 

Wajar apabila kita takut. Bukan tidak beriman. Namun ada mental block yang mengganggu dan perlu kita hancurkan. Mental block ini bisa terjadi karena kita terbiasa merespon segala sesuatu yang tidak pasti itu sebagai sebuah ketakutan. Bisa dari pola asuh, yang bilang "gelap, takut ihh nanti ada hantu". Jadinya terbentuk mental block. Ketika memandang sesuatu yang gelap dalam artian penuh ketidak pastian, otak kita merespon bahwa itu adalah ketakutan.

Tapi, apakah mungkin Allah memberi perintah yang membahayakan dan menghancurkan kita? Percayalah, dibalik ujian tidak mengenakkan itu ada banyak sekali kebahagiaan yang telah Allah persiapkan dan menanti kita.

Hancurkan Mental Block Dengan Iman

Nabi Ibrahim tak pernah tahu bahwa api itu akan terasa dingin. Dalam benaknya, Nabi Ibrahim pun beranggapan bahwa api itu panas. Namun, imannya pada Allah melebihi apapun. Allah perintahkan, masuklah ke dalam api itu. Nabi Ibarahim pun masuk, dengan api yang sudah Allah jadikan dingin.

Hajarlah mental block mu itu. Apapun yang datang dari Allah itu pasti baik. Meski kedatangannya kadang bersama dengan air mata kesedihan. Itulah gerbang utama menuju kebahagiaan yang abadi dalam hati kita. 

Hancurkan mental block dengan afirmasi asmaul husna. Ulangi makna asmaul husna melekat pada akal pikiran kita, yakini dengan hati melalu segala kejadian terkecil dalam tubuh kita lalu rasakan sifat Allah yang begitu nyata adanya. 

Tentunya, kejernihan hati menjadi alat utama untuk meraasakan sifat asmaul husna Allah. Kita bisa menjernihkan hati dengan perbanyak berfikir mengenai kebesaran Allah dan segala ayat-ayatnya dalam Al Qur'an ataupun ayat yang terhampar di muka bumi ini.

Selamat berjuang, untuk kita yang sedang berproses menuju kebahagaiaan abadi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang pastinya ingin hidup dengan bahagia, nyaman dan tenang. Segala upaya pun dikerahkan demi untuk mencapai hal tersebut. Meski ter...